Depression Survivor #4: Cerita Sang Depresi

04/29/2017

Karena aku percaya, dengan menulis dan membagikan apa yang aku alami, mampu membantuku untuk mengurangi bebanku dan membantu siapapun yang membaca ini untuk meyakinkan bahwa kalian tidak sendirian. Bahwa ada yang merasakan hal yang sama seperti kalian, dan siap untuk berbagi. 

"I am sad all the time and the sadness is so heavy that I can't get away from it." - Nina Lacour.

Menjadi orang yang terkena depresi untuk sebagian orang mungkin adalah hal yang memalukan. Kamu tahu kan, karena reaksi yang didapat ketika ingin menceritakan apa yang membuat kami depresi itu beraneka ragam (dan sedikit meremehkan?)

"Kamu sih, mentalnya lemah. Jadi kayak gitu aja dipikirin dan gampang depresi!" ini contoh pertama.

"Kamu sih, jarang ibadah! Makanya gampang sedih dan mentalnya nggak kuat!" ini contoh kedua.

Semua yang aku sebutkan di atas, benar-benar terjadi sesuai dengan pengalamanku sendiri. Masih banyak contoh lainnya yang terkadang menyepelekan, tapi kamu tau nggak kalau orang depresi itu cenderung sensitif? Karena perkataan tersebut, orang yang terkena depresi jadi enggan untuk menceritakan apa yang terjadi sama dirinya, bagaimana perasaannya saat ini. Lebih memilih untuk diam di kamar dan melihat kebahagiaan orang lain di social media, yang bikin semakin stres dan menuntun ke arah depresi. 

Berawal dari beberapa bulan lalu, aku mulai merasa semakin di luar kendali. Emosional yang begitu naik turun kayak roller coaster, aku mulai curiga sama keadaanku. Biasanya aku cuma berpikir seperti ini: "Mungkin karena mau haid kali ya, jadi hormonalnya kayak begini." atau mungkin, "ah cuma karena kecapekan kali ya jadi emosian begini."

Tapi ternyata enggak.

Sekitar akhir Maret kemarin, aku ketemuan dengan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan untuk menyambut anggota baru yang kami rekrut (dan belum kami lantik, karena masih ada masa percobaan selama tiga bulan). Selama acara, aku bisa menikmati dan tertawa dengan bahagia (beneran, ini nggak bohong) tetapi ada satu anggota yang memperhatikanku dan ketika ia di dekatku ia berkata, "Kak, kamu depresi ya?"

Aku terdiam sebentar. "Mungkin iya." jawabku singkat karena tidak begitu ingin bercerita kenapa.

Singkat cerita, setelah beberapa minggu, keadaan emosionalku naik turun lagi. Terkadang aku bahagia dan tertawa, tapi beberapa saat kemudian aku akan mengurung diri di kamar. Kamu tau kan, rasanya malas untuk bangun pagi dan bersiap untuk bekerja? Aku lebih dari itu. 

Rasanya seperti aku ingin tidur saja sampai semuanya selesai dan nggak ada permasalahan lagi. I'd rather sleep forever than have to wake up with emptiness and broken heart . Catatan, bukan patah hati karena cinta ya! Keadaan emosional kali ini benar-benar bikin aku kelelahan. Membuat aku bingung sendiri sampaipada di tahap aku tidak bisa tidur sampai pagi. Tidur pun harus mengalami mimpi buruk yang terasa sangat nyata, sehingga bangun pun tidak terasa segar.

Harus menjalani kehidupan lagi, menghadapi apa yang sebenarnya mungkin buat kalian "Ah sepele banget sih gitu aja lembek." dan dari perkataan tersebut membuatku enggan untuk bercerita sama orang sekitar (teman, pacar, bahkan keluargaku sendiri) karena aku sudah negative thinking sendiri oleh apa yang akan mereka katakan.

Karena aku merasa seperti sendirian dan tidak bisa mengutarakan apa yang aku rasakan, sampai terpikir untuk mati. Iya, untuk mati dan bunuh diri. Bukan dengan drama menyilet urat nadi, menusuk diri sendiri atau menenggak obat nyamuk (pernah sekali melakukan ini dan aku langsung trauma bau obat nyamuk selama beberapa bulan) tetapi aku bisa melakukannya dengan menyuntikkan insulin di atas batas normal. Bersih, tidak akan ada pertumpahan darah.

Aku sempat tulis pesan ke salah satu temanku, "Aku mau mati aja." dan bikin dia panik. Itupun sudah malam, jadi hal yang bisa dilakukan cuma bisa menelpon dan menuliskan pesan agar apa yang aku tuliskan itu tidak terlaksana. Meskipun aku sudah menyuntikkan insulin di atas batas normal, akhirnya aku menyerah karena otakku kasih sinyal "Girl, you need sugar! Chocolate would be nice!" .

Kedengarannya lucu ya? Soalnya aku suka makan sih, jadi kalau gula darah mulai turun otakku langsung tau aku butuh makanan manis. I'm serious!

Kembali ke topik, akhirnya aku dipaksa bicara sama temanku tersebut. Benar-benar apapun yang aku pikirkan dan rasakan saat itu.

"Aku lelah, emosionalku naik turun. Ada beban tersendiri yang aku rasakan ketika menjadi karyawan tapi tidak bisa memberikan kontribusi untuk perusahaan agar mendapatkan pemasukan. Ada beban tersendiri ketika mempunyai jabatan karena harus bisa mengerti orang-orang diluar sana tapi orang tersebut tidak mengerti keadaan kita. Ada beban tersendiri ketika menjadi anak yang keluar dari jalur keluarganya. Ada beban tersendiri ketika aku tidak bisa mengikuti standar masyarakat, mengikuti semua apa yang ada di sosial media: cantik, kurus, rambut panjang, putih. Aku merasa menjadi beban entah dimanapun aku berada."

Tekanan yang begitu dalam dari beberapa tahun lalu menggunung hingga sekarang. Dimulai dari kehilangan sosok ibu, kisah percintaan yang mengenaskan (physical and mental abuse), beban magang sendirian di negeri orang, hingga akhirnya sekarang ini membuatku terkena depresi dan kecemasan berlebihan.

Banyak hal yang aku lakukan untuk mengurangi depresi dan kecemasan berlebihan tersebut. Mulai dari berorganisasi atau mengikuti kepanitiaan, membantu orang sekitarku, berdoa dan bercerita kepada Tuhan sebelum tidur, dan menulis. Seperti saat ini aku menulis sebuah artikel (yang tidak begitu seperti artikel, menurutku) mengenai apa yang aku alami sebagai orang dengan depresi.

Karena aku percaya, dengan menulis dan membagikan apa yang aku alami, mampu membantuku untuk mengurangi bebanku dan membantu siapapun yang membaca ini untuk meyakinkan bahwa kalian tidak sendirian. Bahwa ada yang merasakan hal yang sama seperti kalian, dan siap untuk berbagi.

Ditulis oleh: Seorang mahasiswi di Tangerang