Depression Survivor #1: Curhat = Jendela Pikiran

04/28/2017

Permasalahan internal keluarga yang tidak dibicarakan dapat menimbulkan stress yang berkelanjutan hingga depresi pada kalangan pemuda.

Pada intinya mencurahkan isi hati kepada orang yang kita percaya memang bisa menjadikan salah satu solusi untuk mengatasi depresi. 

Depresi? Depresi adalah sebuah kondisi dimana perasaan sedih dan tertekan lebih mendominasi pada sisi psikologis manusia. Tentu setiap orang pernah merasakan hal semacam itu. Depresi memang tak pandang bulu, depresi bisa dialami oleh anak usia dini, remaja, orang dewasa, hingga orang tua. Depresi akan dipandang wajar jika si penderita dapat menghadapinya dengan hal positif. Namun terkadang beberapa dari si penderita tak tahu apa yang harus mereka lakukan ketika mengalami depresi, sehingga mereka akan menghadapinya dengan hal negatif.

Dari kasus-kasus yang pernah terjadi, seseorang yang mengalami depresi akan bertindak nekat untuk menyelesaikan masalahnya. Terlebih seperti menggunakan narkoba hingga melakukan tindakan bunuh diri.

Maka dari itu, ketika kita sedang mengalami depresi tak ada salahnya bagi kita untuk menceritakannya kepada seseorang yang dianggap bisa memberikan solusi atau minimal bisa menjadi pendengar yang baik. Karena bercerita atau lebih sering disebut dengan curhat merupakan sarana untuk mengekspresikan perasaan dan lagi curhat dapat mengurangi beban masalah kejiwaan.

Depresi pernah menghinggapiku beberapa waktu yang lalu. Sebuah masalah besar pernah menimpa keluargaku yang tentu berimbas padaku dan juga kakakku. Awalnya masalah ini kami sikapi dengan postif, kami sekeluarga saling menguatkan. Dan tentu saja dengan saling menguatkan itu kehidupan kami masih terasa tennag-tenang saja.

Tapi yakinlah bahwa tak selamanya kehidupan akan selalu berjalan mulus. Hingga suatu ketika masalah di keluargaku ini semakin besar maka semua ini berdampak padaku dan kakakku. Kami berdua berubah menjadi anak yang pendiam dan pemikir.

Dan untuk masalah ini, aku sering bertukar pikiran dengan Ibuku. Aku sering bercerita bagaimana tertekannya aku karena masalah ini, meski aku juga tau jika beliau lebih tertekan lagi daripada aku. Namun beliau hebat, ia bisa merangkul aku dan kakakku agar kami tetap tenang dan hanya fokus kepada pendidikan kami.

Beberapa kali aku pernah berkata kepada Ibuku bahwa aku pasrah dan bodohnya aku ingin mengakhiri hidupku. Terdengar bodoh dan ceroboh memang, dan untung saja Ibuku dengan sabarnya memberikan solusi agar tetap mendekatkan kepada Tuhan dan menjauhkan pikiranku dari hal yang begatif. Dan jujur saja setiap aku bercerita atau bertukar pikiran dengan Ibuku, aku merasa bebanku sedikit banyak akan berkurang.

Setiap aku bercerita atau bertukar pikiran dengan Ibuku, aku merasa bebanku sedikit banyak akan berkurang 

Awalnya aku tak ingin bercerita kepada siapa-siapa karena aku berpikir bahwa ini adalah sebuah kisah keluargaku yang tak harus semua orang tau termasuk teman-teman dekatku. Namun ternyata teman-temanku sadar dengan perubahan sikap yang terjadi kepadaku. Kata mereka, aku yang mulanya adalah sosok yang periang dan ramah kini berubah menjadi sosok yang pendiam dan sedikit dingin. Mereka juga heran terhadap prestasi belajarku yang semakin menurun.

Akhirnya aku bercerita kepada mereka meski tak menceritakan semuanya secara gamblang. Dan bersyukurlah bahwa mereka mengerti dan tak memaksaku untuk bercerita lebih. Dengan aku bercerita kepada mereka aku tak berharap mereka akan memberiku solusi. Aku hanya ingin didengar dan hanya ingin sebagian dari mereka mengerti akan keadaanku.

Aku hanya ingin didengar dan hanya ingin sebagian dari mereka mengerti akan keadaanku. 

Keadaan ini tak hanya terjadi padaku. Kakakku bahkan sempat menjadi orang yang memusuhiku dan juga pendiam. Ia tak mau berbicara denganku meski aku beberapa kali mengajaknya berbicara. Ketika tengah malam yang harusnya menjadi waktu untuk beristirahat tiba, kakakku akan pergi ke teras rumah dan berdiam disana. Tentu saja ini membuat aku, Ibu maupun Ayahku khawatir. Kami sekeluarga tau jika alasan dia melakukan ini karena masalah itu. Dengan hati-hati akhirnya Ayahku menghampiri kakakku dan bertanya tentang keadaannya. Ia bercerita semuanya kepada Ayahku, sedangkan aku dan Ibuku menunggu di dalam rumah.

Aku tau kenapa ia berubah seperti ini, karena ia merasa iri sekaligus kasihan denganku. Ia iri karena Ayah Ibuku masih bisa membiayai lancar kuliahku meski dengan uang yang pas-pasan. Sedangkan ia yang sedang skripsi harus tetap berada di rumah karena Ayah dan Ibuku masih belum mendapatkan uang untuk kakakku. Skripsi-nya pula yang membuat ia semakin terpuruk saat ini.

Di sisi lain ia sedih jika harus melhatku berhenti kuliah ketika ia tahu jika aku mempunyai potensi di pendidikanku ini. ia ingin membantu, namun ia tak tau dengan apa ia bisa membantu keluargaku. Dan pada akhirnya Ayahku yang mendengarkan semua keluh kesah kakakku bisa membuat kakakku berpikir ke depan dan kembali menjadi seperti semula. Ayah dan Ibuku memang selalu ada untuk aku dan kakakku. Mereka akan selalu menjadi pendengar yang baik ketika aku dan kakakku terpuruk. Mereka pulalah yang tak jarang akan mencarikan solusi untuk masalah-masalah kami.

Pada intinya mencurahkan isi hati kepada orang yang kita percaya memang bisa menjadikan salah satu solusi untuk mengatasi depresi. Karena pada dasarnya orang depresi atau orang yang sedang memiliki banyak pikiran adalah orang yang ingin dimengerti. Dan cara kita mengerti mereka adalah dengan cara mendengarkan dan menyimak masalah mereka.

Cara kita mengerti mereka adalah dengan cara mendengarkan dan menyimak masalah mereka.

Menyimak bukan hanya dengan telinga saja, tapi juga menggunakan indera lain seperti mata untuk melihat gerak tubuh dan ekspresi mereka, hati untuk berempati terhadap apa yang sedang menimpa mereka, dan otak untuk memahami setiap kata dan ucapan mereka.

Ditulis oleh: Carina Madania yang bercita-cita menjadi seorang penulis