Depression Survivor #2: Depresi, Yuk Curhat!

04/29/2017

Pada usia remaja dan dewasa muda, depresi dapat disebabkan kondisi penderita berada dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacar.

Saya selamat karena dukungan dari orang-orang terdekat saya.

Saya adalah mahasiswa yang berkuliah di luar kota. Sebagaimana mahasiswa lainnya, saya berkuliah, berorganisasi, bergaul, dan memiliki pacar. Ketika saya menginjak semester lima, saya mengalami sesuatu yang mungkin tidak dirasakan oleh semua orang.

Saat itu bukan merupakan kali pertama saya memiliki pacar, namun kali itu berbeda. Pengalaman saya berpacaran saat itu membuat saya satu per satu meninggalkan sahabat-sahabat saya. Saya juga tidak berkomunikasi dengan satu laki-laki pun, kecuali pacar saya. Pun saya tidak memiliki privasi karena dia mengetahui seluruh password dan kegiatan saya setiap harinya.

Sebagaimana pasangan lain, ada saatnya kami berkelahi sangat hebat. Saya sebagai pacar juga sering ditanyai oleh temannya jika urusan kuliahnya mulai tidak beres. Situasi tersebut sangat membuat saya tertekan dan membuat saya menangis tersedu-sedu setiap hari. Terkadang saya beruntung saya tidak memiliki teman, karena saya merasa setiap kali seseorang menyapa saya, saya dapat menangis kapan saja.

Semakin hari saya semakin tidak kuat menahan perasaan yang semakin campur aduk. Perasaan marah, kecewa, sedih, dan putus asa terus saya rasakan tanpa bias saya ekspresikan. Perlahan-lahan saya berhenti masuk kuliah untuk menangis di kamar kost saya. Namun, semakin hari saya tidak dapat membendung perasaan tersebut. Setiap hari saya bisa menangis hingga berteriak dengan kencang karena ingin melepaskan beban yang saat itu saya rasakan. Saya sangat malu ketika mendapat peringatan dari satpam kost saya saat itu.

Penderitaan saya berakhir ketika saya mulai menyakiti diri saya sendiri dengan benda tajam. Saat itu juga saya tahu bahwa saya tengah mengalami gejala depresi akut; berdasarkan hasil membaca banyak artikel di internet. Saya langsung menghubungi seseorang yang dulu sangat dekat dengan saya. Ia datang, dan saya bisa menceritakan semuanya. Saya masih tersedu-sedu, namun hati saya tidak lagi terasa sakit.

Saya langsung menghubungi seseorang yang dulu dekat dengan saya... Saya masih tersedu-sedu, namun hati saya tidak lagi terasa sakit.

Karena sahabat saya tersebut, saya dapat melewati UAS dengan lancar meskipun nilai saya semester itu sangat menurun. Setelah itu, saya mulai bergabung dengan kelompok belajar saya dulu dan terbuka kepada mereka. Semester selanjutnya, saya memiliki kekuatan untuk tetap kuliah. Akhirnya, dukungan dari sahabat-sahabat saya membuat saya memiliki keberanian untuk mengakhiri hubungan saya dengan pacar saya tersebut.

Tidak banyak yang mengetahui cerita ini, selain sahabat yang saya hubungi pertama kali. Perasaan malu dan takut dianggap "baper", "galau", "berlebihan", dan "gila" membuat saya enggan bercerita kepada orang lain. Di sisi lain, saya selamat karena dukungan dari orang-orang terdekat saya.

Saya berharap cerita saya dapat dihayati agar ketika kamu merasakan hal yang sama, kamu tidak takut untuk mencari pertolongan. Selain itu, jika kamu menemukan temanmu yang (mungkin) merasakan hal yang sama seperti saya, jangan ragu untuk memberikan pertolongan.

Ditulis oleh: Seorang pegawai swasta di Jakarta.