Media Sosial dan Kesehatan Mental: Kawan atau Lawan?

05/31/2019

Bukalah media sosial favoritmu dan ketik #4Mind4Body pada bilah pencarian. Setelah melihat hasil dari pencarian tagar tersebut, apakah kamu mendapatkan informasi baru terkait kesehatan mental? Mungkin kamu merasa termotivasi untuk lebih memperhatikan dan menjaga kesehatan mentalmu? Atau sebaliknya, kamu tidak tertarik dengan konten-konten yang dilekatkan dengan tagar tersebut? Apa pun responsmu, setidaknya sekarang kamu telah terpapar informasi-informasi baru terkait kesehatan mental. Begitulah pakar dan aktivis kesehatan mental memanfaatkan media sosial dan mengarahkan masyarakat (baik internet maupun dunia nyata) ke sisi positif perkembangan bidang kesehatan mental.

Tagar yang barusan kamu cari merupakan gerakan sosial yang dipelopori oleh Mental Health America (MHA), sebuah organisasi di bidang kesehatan mental yang pertama kali menetapkan bulan Mei sebagai Mental Health Awareness Month di tahun 1949. Setiap tahun di bulan kelima, organisasi ini merilis panduan materi mengenai aktivitas penyebaran informasi seputar kesehatan mental dan bekerja sama dengan organisasi terkait lainnya dalam menjalankan aktivitas sesuai tema. Melihat kesuksesan tema dengan tagar tersebut di tahun lalu, MHA menetapkannya kembali sebagai tema aktivitas di tahun ini. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya tahun 2018 dan 2019 yang mengikutsertakan simbol pagar (#). Hal ini mengindikasikan signifikansi peran media sosial, yang memanfaatkan penggunaan tagar untuk meningkatkan jumlah interaksi (engagement), dalam visi dan misi MHA untuk menyebarluaskan kesadaran terkait kesehatan mental. Pemilihan kembali #4Mind4Body sebagai tema Mental Health Awareness Month menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi alat yang berpotensi besar dalam meningkatkan efektivitas penyebaran isu kesehatan mental.

Potensi media sosial dalam perkembangan bidang kesehatan mental tidak terbatas pada penyebaran informasi dan peningkatan kesadaran. Sebuah penelitian yang dilakukan tiga mahasiswa di Amerika Serikat di tahun 2013 menunjukkan bahwa media sosial juga berpotensi sebagai penghubung mahasiswa dengan layanan kesehatan mental. Erica J. Seidel, Danna Ethan, dan Corey H. Basch menyinggung kecenderungan mahasiswa meluapkan emosi dan masalah mereka di media sosial dan bukan memanfaatkan layanan konseling mahasiswa yang disediakan oleh kampus. Hasil penelitian ini memberi penerangan pada perspektif yang baiknya digunakan untuk menerawang masa depan bidang kesehatan mental. Alih-alih memandang media sosial sebagai akar permasalahan kesehatan mental dan bersikeras meminimalkan penggunaannya (sesuatu yang hampir tidak mungkin bagi generasi muda di zaman ini), kita dapat melihatnya sebagai ekstensi dari upaya mengembangkan bidang kesehatan mental dan menyesuaikan kondisi dengan zaman.

Upaya layanan konseling untuk keluar dari konsep konvensionalnya dan beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi markah dari perkembangan bidang kesehatan mental ke arah yang positif. Melalui penggunaan media sosial, pihak profesional dapat menjadi bagian dari komunitas daring generasi muda dan menciptakan lingkungan nyaman bagi mereka untuk membicarakan masalah. Ini berarti media sosial tidak hanya digunakan untuk mencari dan berbagi informasi untuk bantuan kesehatan mental, melainkan dapat menjadi bantuan itu sendiri. Upaya pihak profesional ini tentu perlu didampingi dengan upaya individu yang berkaitan untuk mencapai hasil positif yang diharapkan. Layaknya sosialisasi di dunia nyata, interaksi di media sosial juga idealnya bersifat dua arah. Oleh karena itu, kedua pihak hendaknya sama-sama aktif dalam memaksimalkan media sosial untuk kepentingan kesehatan mental.

Salah satu contoh nyata dari upaya pemanfaatan media sosial di bidang kesehatan mental, terutama bagi kalangan pemuda yang kesehariannya lekat dengan dunia maya, adalah kehadiran akun-akun komunitas atau organisasi kesehatan mental yang secara aktif membagikan informasi dan memicu interaksi antara pengguna. Sebagai contoh, akun Instagram @intothelightid tidak hanya memanfaatkan akun mereka sebagai wadah publikasi, melainkan juga wadah untuk berbagi dan bertukar cerita. Contoh lain adalah #ISmile4You, sebuah kampanye yang mengambil konsep sederhana dengan menggarisbawahi kekuatan senyuman dalam menghadapi isu kesehatan mental. Sementara itu, layanan konseling tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari akun pada aplikasi chatting Line yang disediakan Sehat Mental Indonesia (ID Line: @konseling.online) hingga layanan emailyang disediakan Yayasan Pulih (pulihcounseling@gmail.com).

Penggunaan media sosial untuk hal positif tentu tidak akan serta-merta menghapus dampak negatif media sosial bagi kesehatan mental. Diskursus terkait dampak media sosial bagi kesehatan mental akan terus terambang di antara sisi positif dan negatif; media sosial dapat menjadi masalah ataupun solusi bagi isu kesehatan mental. Arah dari dampak media sosial ditentukan oleh kita sebagai pengguna. Maka, bukan sebuah hiperbola kalau bilang kita dapat mengubah dunia melalui sentuhan jari. Psst, mumpung masih bulan Mei, kamu bisa berkontribusi terhadap dunia kesehatan mental sekarang dengan menggunakan tagar #4Mind4Body di media sosialmu, lho!


Ditulis oleh: Indiana Salsabila dan Airlangga Jati

Sumber Referensi:

https://www.mentalhealthamerica.net/may

https://www.omicsonline.org/open-access/using-social-media-to-connect-college-students-with-mental-heal-the-services-2165-7912.1000e150.php?aid=21931

https://www.instagram.com/intothelightid/

https://ismile4you.org/

Sumber gambar:

https://twitter.com/hashtag/4mind4body

https://theaggie.org/2017/11/07/dont-let-social-media-control-your-time-or-mental-health/